PROKAL.CO, MASYARAKAT Kampung Giring-Giring dan Kampung Sumber Agung, sangat antusias, menyambut program energi terbarukan dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam (SDA) yang berlimpah.

Project Manager Konsorsium Peduli Yayasan Konservasi Alam (PEKA), Yayasan Penyu Berau dan Lamin Segawi, Farhan, mengungkapkan di Kecamatan Bidukbiduk dan Batu Putih memiliki SDA yang melimpah. Daerah pesisir selatan itu, diakuinya mempunyai potensi SDA yang besar, baik di laut maupun di darat.

“Jadi potensi tersebut harus dimanfaatkan maksimal agar mengangkat perekonomian masyarakat setempat dan menjaga kelestarian alam,” ujarnya.

Oleh karena itu, kata Farhan, Yayasan PEKA Indonesia, Yayasan Penyu Berau, dan Yayasan Lamin Segawi bersinergi menyelenggarakan program pemanfaatan SDA dan energi terbarukan secara berkelanjutan bagi kedua kecamatan tersebut. Yakni Kampung Giring-Giring di Kecamatan Bidukbiduk dan Kampung Sumber Agung di Kecamatan Batu Putih.

“Kegiatan program ini difasilitasi oleh Yayasan KEHATI, GPM W2 Lot1 MCA-Indonesia. Dan program ini sudah dimulai sejak Juli 2016,” sebutnya.

Menurut dia, masyarakat sangat antusias menyambut program ini. Sudah terbentuk kelompok yang bergerak dalam usaha kecil, termasuk 9 kelompok khusus perempuan, penerima manfaat program di kedua kampung tersebut.

Beberapa pelatihan dan proses identifikasi kelompok telah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi di masyarakat. Seperti pelatihan bagi kelompok usaha kecil pembuatan cocopeat dan coco fiber di Kampung Giring-Giring dan pelatihan pembuatan terasi di Kampung Sumber Agung. “Ada juga proses identifikasi potensi kelompok di Kampung Sumber Agung,”imbuhnya.

Lanjut Farhan, Dalam proses identifikasi potensi kelompok, program ini berhasil membentuk beberapa Kelompok  penerima manfaat. Di Kampung Giring-Giring terdapat 13 kelompok, sedangkan di Kampung Sumber Agung terdiri dari 11 kelompok. (lihat grafis)

Selain itu, pada 28-29 September 2016 lalu telah dilaksanakan Workshop dan Training Integrasi Sosial Gender dilaksanakan di Kampung Batu Putih dan Sumber Agung. Adapun yang ikut dalam kegiatan tersebut adalah masyarakat, pemerintah kampung (kepala kampung dan BPK), kelompok dasawisma/Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K), kelompok nelayan rumput laut, kelompok petani dan kelompok usaha.

“Melalui workshop tersebut peserta menjadi tahu dan memahami apa yang dimaksud dengan integrasi sosial gender serta pentingnya kontribusi dan peran kelompok dalam program. Juga terbentuknya kelompok-kelompok usaha baru berdasarkan kesamaan jenis usaha dan kepentingan,” terangnya.

Yang paling penting, ditegaskannya, adalah terbangunnya keberanian untuk menyampaikan ide dan gagasan dari kelompok-kelompok perempuan di depan umum.

Dengan mendorong potensi SDA yang ada di sana, diharapkan masyarakat bisa mendapatkan penghasilan tambahan di samping profesinya sebagai nelayan. Namun sumber daya laut yang menjadi pusat penghasilan utama masyarakat tetap diperhatikan, dengan mendorong produksi udang dan ikan.

Selain itu, fasilitas pendukung produksi akan coba dipenuhi. Salah satunya sedang membuat Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di kedua kampung tersebut. Pemerintah setempat setelah memperhatikan analisis dan dampak lingkungan kemudian memberikan izin pembangunan PLTS di Kampung Sumber Agung dan Kampung Giring-Giringdengan Nomor 130/605/Pem.A/XII/2016 tertanggal 28 Desember 2016 yang ditandatangani langsung oleh Bupati Berau.

Nantinya PLTS akan dialirkan ke pabrik mini untuk menghidupkan unit teknologi di dalam pengolahan berbahan dasar udang rebon yang diolah menjadi terasi. Pengolahan berbahan rumput laut yang akan diolah menjadi tepung rumput laut. Pengolahan serabut Kelapa untuk menjadi cocopeat dan coco fiber.

Pengelolaan PLTS dan mini pabrik ini, akan dilakukan oleh kelompok pengelola yang melibatkan 13 kelompok penerima manfaat pengolahan kelapa. Kemudian 11 kelompok untuk proses pembuatan terasi dan rumput laut yang berada di Kecamatan Batu Putih serta 9 kelompok perempuan yang berada di Kecamatan Bidukbiduk. Keterlibatan kelompok perempuan akan terus dilakukan dalam setiap tahapan pelaksanaannya. Hal ini dilakukan untuk memberikan ruang bagi kaum perempuan terlibat dalam setiap proses pembangunan kampung.

Artikel diambil dari: http://m.berau.prokal.co/read/news/51983-manfaatkan-sda-berlimpah.html

 

 

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat meninjau program Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) di Berau, Kalimantan Timur.

 

REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia saat ini dihadapkan pada dua permasalahan yang cukup penting yakni kemiskinan serta laju deforestasi dan degradasi hutan yang semakin ting­gi. Kedua persoalan besar tadi tidak bisa tuntaskan oleh pemerintah sen­dirian, tapi perlu dukungan semua pihak termasuk organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah.

Muhammadiyah sebagai salah satu ormas terbesar di Indonesia menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir punya andil untuk memberikan kon­tribusi melalui Majelis Pemberdayaan Masya­rakat (MPM) PP Muhammadiyah. 

"Program MPM tahun ini antara lain kami laksanakan di Kabupaten Berau khususnya dalam penanganan kemiskinan di wilayah hu­tan dengan harapan mengurangi laju defo­restasi dan degradasi lahan kehutanan di Indo­nesia," kata Haedar di Berau, Kali­mantan Ti­mur, awal Oktober.

Haedar mengungkapkan hal tersebut saat bersama tokoh-tokoh masyarakat adat di kam­pung Batu Rajang dan beberapa kam­pung adat lainnya di Kabupaten Berau memimpin pena­na­man bibit di lahan demplot dan lahan ma­sya­rakat seluas 200 hektare. Adapun bibit yang ditanam antara lain 49.500 bibit Lada, 24.750 bibit Gaharu, dan 525 paket bibit em­pon-em­pon seperti jahe merah, jahe Kaliman­tan, ku­nyit, kencur, leng­kuas, hingga temula­wak.

Selain itu, masyarakat kampung adat di Berau juga diajak menanam 214 paket bibit sa­yuran seperti cabe rawit, tomat, terong, timun, sawi, kangkung dan bayam serta 7.500 paket ta­na­man hutan seperti meranti dan sengon. Masya­rakat adat juga diberikan bantuan beru­pa alat-alat pertanian, mesin pengolahan pasca-panen serta sarana dan prasarana koperasi.

Masyarakat adat yang terlibat dalam pro­gram yang digulirkan MPM itu merupakan bagian dari 214 Kepala Keluarga di tiga kampung di Kabupaten Berau yakni kampung Batu Ra­jang dan kampung Siduung Indah di Keca­ma­tan Segah serta kampung Long Keluh di Keca­matan Kelay. 

Mereka ini sejak tahun 2016 mendapat pem­binaan dari MPM bekerja sama dengan Milleni­um Challenge Account (MCA) Indonesia dan KEHATI. Program pendampingan yang dilak­sa­nakan  seperti pembuatan pupuk orga­nik, pembi­bitan, perawatan tanaman, pengo­lahan pasca­panen hingga inisiasi warga dalam membentuk kelompok usaha bersama berupa koperasi.

Kagumi kadernya

Usai penamanan, Haedar Nashir tak mam­pu menyembunyikan kebanggaannya pada sepak terjang kader-kadernya di daerah terpen­cil, terdalam, dan terluar di Indonesia. ‘’Saya ka­gum sekaligus bangga pada kader-kader Mu­hammadiyah yang tidak pernah lelah mem­be­rikan pembinaan kepada masyarakat di daerah terpencil yang hasilnya bisa kita lihat sekarang ini,’’ ungkapnya.

Menurut Haedar setelah menerima pen­dampingan dari MPM, ia melihat masyarakat adat di Batu Rajang dan beberapa kampung adat lainnya di Berau kini su­dah per­lahan dapat hidup man­diri. Keman­di­rian itu juga tam­­pak jelas sesudah masyarakat adat merasa­kan man­faat dari keberadaan koperasi masya­ra­kat adat, yang diberi nama Ilu Udip Mading.

"Sesuai namanya Ilu Udip Mading yang ber­arti Kita Hidup Baru. Koperasi itu diharap­kan dapat menjadi sarana untuk peningkatan eko­nomi masyarakat adat Batu Rajang,’’ tegasnya.

Haedar berharap masyarakat adat di sini da­pat terus hidup rukun dan berbagi kasih sayang. “Muhammadiyah hadir untuk semua bukan untuk satu kelompok saja, ama­nahnya adalah semangat untuk saling berbagi kasih, nik­mat dan kebahagiaan lewat kerja yang produktif dan mem­­bawa kemajuan. Jejak kaki yang kami ting­galkan, siapa tahu bermanfaat bagi kita ber­sama. Kami bangga juga memiliki optimisme dan syu­kur pada Allah SWT,” tuturnya.

 Redistribusi lahan 

Menyinggung mengenai program pemerin­tah tentang Reformasi Agraria berupa redistribusi lahan, Haedar berharap agar kebijakan tersebut tidak sekadar bagi-bagi lahan semata. Ia mengatakan,  perlu ada pendampingan lanjutan bagi masyarakat yang menjadi sasaran program tersebut. 

Misalnya terhadap masyarakat adat peda­laman yang menjadi sasaran dari program ter­se­but, menurutnya, selain redistribusi lahan, pemerintah juga perlu membangun tatanan sosial, perekonomian hingga pendidikan. “Seperti yang dijalankan MPM, kita membantu mereka untuk punya tatanan sosial baru, dalam kehidupan yang menetap berbasis pada kebu­dayaan mereka sendiri, lebih jauh lagi negara harus hadir untuk memberi jaring-jaring struk­tural yang membuat mereka lebih sejahtera, lebih maju dan lebih tercerdaskan,” tuturnya.

Pemerintah lanjut dia siap melakukan redistribusi lahan  seluas 21,7 juta hektare. Sekitar 9 juta hektare masuk pada Rencana Kerja Pe­merintah (RKP) 2017 baik redistribusi maupun legalisasi aset. Sisanya ditargetkan selesai pada 2019 dengan prioritas masyarakat adat, nela­yan, hingga buruh tani.

“Kalau Pemerintah sekarang punya kebija­kan redistribusi lahan itu perlu ada dalam ske­ma ini, bagaimana kita betul-betul memberikan lahan kepada mereka agar mereka memiliki tanah airnya. Apapun negara harus hadir. Dan inilah pemahaman keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” papar Haedar yang berharap program tersebut  tepat sasaran terutama bagi masyarakat adat.

 

Artikel diambil dari: 

http://www.republika.co.id/berita/nasional/sang-pencerah/17/10/12/oxpkp5291-kiprah-muhammadiyah-dorong-masyarakat-adat-hutan-berkemajuan 

Nelayan Maratua, Berau, Kalimantan Timur hingga kini masih kesulitan mendapatkan es batu untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan.  Sebuah pabrik es sedang dibangun untuk menjawab kelangkaan es saat mereka melaut.  Energi matahari menjadi andalan menggerakan mesin pabrik. 

Kelimpahan sumber daya ikan di perairan Maratua, Derawan dan sekitarnya membuat nelayan di wilayah ini harus berpacu dengan waktu.  Ikan hasil tangkapan nelayan bisa busuk di jalan jika tidak segera tertolong.

“Kami sangat butuh es.  Apalagi kalau melaut bisa menghabiskan tiga sampai hari,” ujar nelayan Maratua, Iwan Kusmayadi (11/10). 

Jika melaut, sambungnya, ikan hasil tangkapan disimpan dalam kotak fiber.  Supaya awet, fiber harus diisi es sebelum nelayan membawanya kembali ke daratan dan dijual pada pedagang pengumpul. 

Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dibawa jauh hingga ke Tanjung Redeb, ibukota Berau.  Jaraknya bisa seharian berperahu motor.

“Setidaknya, kalau bawa ikan sampai ke Berau (istilah nelayan untuk Tanjung Redeb) harus tahan sampai seminggu,” ucapnya.

Sekali melaut, sambungnya, setidaknya nelayan bisa mengumpulkan hingga 80 kilogram ikan.  Tapi kalau kelimpahan ikan banyak dan cuaca mendukung, nelayan bisa mendapatkan hingga 240 kilogram.  Bahkan bisa lebih dari angka itu.

“Tapi kami terkendala. Susah mendapat es.  Es dibawa dari Berau.  Itupun harganya 12 ribu (rupiah) per balok.  Parahnya lagi, es kadang tidak ada.  Jadi kami gagal melaut,” paparnya.

Kampung Iwan di Teluk Alulu merupakan sebuah kampung yang jauh dari akses.  Satu-satunya sarana transportasi yang digunakan adalah perahu bermesin.  Jaraknya dari Tanjung Redeb bisa mencapai 12 jam dengan kapal sederhana bermesin tunggal.  Paling lama bisa mencapai 14 jam.

Es batu dari Tanjung Redeb hanya bisa dibawa dengan kapal.  Tidak mungkin mengandalkan speed boat, karena harga es akan jauh lebih malah mengingat biaya transportasi.  Selain itu, ukuran es balok tidak muat dimasukkan ke dalam perahu bermesin kencang itu. 

Iwan dan nelayan Teluk Alulu bertekad memanfaatkan kelimpahan sinar matahari.  Sinar matahari, katanya, dapat dikonversi menjadi energi listrik yang menggerakkan mesin pembuat es batu.

Inisiatif inilah yang lantas dijawab oleh Millenium Challenge Account (MCA) – Indonesia.  Program ini berkomitmen untuk pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal.

Melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan Java Learning Center (JAVLEC), program ini mempermudah persoalan yang dihadapi nelayan.  Sebuah inisiatif pabrik es kini tengah dibangun di kampung Iwan.

Di kampung ini sedang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal berkekuatan 54 kilowatt-peak.  Daya yang dihasilkan PLTS ini  mampu menggerakkan mesin pembuat es berkapasitas 2 ton per hari.

Community-based Natural Resources Manager MCA-I,  Muhamad Chehafudin mengatakan, kegiatan ini penting karena berbasis masyarakat.  Masyarakat terlibat langsung dari mulai perencanaan, pelatihan, pembangunan pabrik hingga mengelola hasil-hasilnya.  Dalam prakteknya, es akan digunakan bagi kepentingan nelayan.  Diharapkan dengan adanya pabrik, pengeluaran nelayan untuk membeli es balok bisa berkurang.

Pabrik ini memilik perputaran uang.  Dimana nelayan tetap akan membeli es dari pengelola yang sudah dibentuk pemerintahan kampung.  Dalam hal ini Badan Usaha Milik Kampung (BUMK).  Kalau ini dapat dikelola dengan baik, maka operasi dan pengelolaan pabrik dapat ditanggung oleh pabrik sendiri.

“Sehingga keberlanjutan pengelolaan dapat dijamin,” tandasnya.

 Silahkan klik di link berikut untuk melihat foto: Foto Kegiatan

 

 

Mangrove di Berau, Kalimantan Timur berpotensi maraup rupiah melalui ekowisata.  Pengelolaannya mesti beralaskan asas berkelanjutan.  Peran masyarakat menjadi kunci utama.

Direktur Yayasan Keragaman hayati Indonesia (Kehati), MS Sembiring menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam ekowisata mangrove.  Potensi mangrove yang cukup besar di Berau, Kalimantan Timur tentu dapat dijadikan sebagai salah satu peraup rupiah yang potensial.

“Mengelola mangrove harus melibatkan masyarakat,” ungkapnya.

Di banyak tempat, lanjutnya, masyarakat sudah mampu memanfaatkan jasa lingkungan mangrove.  Seiring ekowisata, masyarakat dapat mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan, termasuk budidaya kepiting bakau, usaha kuliner, penginapan, dan pengembangan pusat oleh-oleh.

Hal tersebut disampaikan MS Sembiring di sela kunjungannya ke Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur (10/10).  Di Indonesia sendiri, ungkapnya, potensi mangrove meliputi daerah pesisir yang membentang dari Sumatra hingga Papua.

Pengelola Program Java Learning Center, Fachrudin Riyadi, mengungkap  pengelolaan mangrove Berau belum optimal sebagai tujuan wisata andalan.  Untuk itulah PIM ada sebagai media pemberdayaan masyarakat. 

“PIM menjadi sarana pembelajaran, sekaligus tempat segala informasi mangrove dapat diakses,” katanya.

Di Tanjung Batu, lanjut Facrudin, kegiatan wisata menyasar pengelolaan eksositem mangrove berbasis masyarakat.  Hutan mengrove Tanjung Batu tersebar di Bulalang dan Mangkarangau. 

“Walau berstatus Area Penggunaan Lain, pengelolaannya sudah mendapat izin dari Bupati,” ungkapnya.

 Pada 13 April 2017, Bupati Berau mengirim surat nomor 523.1/159/Pem tentang Pembangunan Sarana dan Prasarana Ekowisata Mangrove Kampung Tanjung Batu.   Surat ini, salah satunya berisi rekomendasi pembangunan PIM. 

Selain PIM, saat ini juga sedang dibangun educational track yang sekaligus berfungsi sebagai dermaga.  Wisatawan dapat mengakses kawasan ini melalui darat, maupun transportasi air.

Kepala Desa Tanjung Batu, Jorjis mengatakan sesungguhnya total luasan bakau di wilayahnya seluas 3.131 hektare. 

“Tapi yang dikhususkan sebagai lokasi ekowisata hanya seluas 1.833 hektare.  Di sini terdapat mangrove jenis langka Camptostemon philippinense.” ungkapnya. 

Masyarakat, lanjutnya, sudah bersepakat melindungi, mengelola dan memanfaatkan hutan mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan.  Pada titik inilah ekowisata berperan penting.

“Kami dibantu MCA-Indonesia melalui Yayasan Kehati dan Javlec,” katanya. 

Millenium Challenge Account Indonesia berkomitmen untuk pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi local.  Selain Kawasan Ekowisata Tanjung Batu, disini MCA-Indonesia juga membantu pembangunan Pusat Listrik Tenaga Surya di Kampung Teluk Alulu, Berau.

Sejalan dengan itu, Direktur Program Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat KEHATI – MCA-Indonesia, Asep Suntana, mengatakan program ini menampilkan bentuk ril dari pengelolaan hutan modern berbasis masyarakat.

Jika berbagai kepentingan tidak terfasilitasi dengan baik, lanjutnya, bisa saja semua inisiatif tersebut tidak akan berhasil-guna.  Jadi peran-peran fasilitasi sungguh dibutuhkan.

“Hutan dikelola untuk memenuhi banyak kepentingan (multi-interests forestry) dalam rangka mencapai pengelolaan hutan lestari. Termasuk mangrove,” katanya.

Mangrove penting sebagai system penyangga kehidupan, lanjut Sembiring.  Kondisi mangrove di sepanjang pesisir Berau masih cukup bagus.  Mangrove berperan menguatkan ekosistem laut dan pesisir sebagai wilayah pemijahan berbagai jenis ikan, dan habitat keragaman hayati yang penting.

Selain itu mangrove juga berperan sebagai sumber pangan, pelindung pesisir, menjaga kekayaan keragaman hayati dan berkontribusi sebagai pengendali iklim.  Karena itu pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No 73 tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

“Di dalamnya juga termaktub peran serta masyarakat,” tandas Direktur Yayasan Kehati itu.

 

 Silahkan klik di link berikut untuk melihat foto: Foto Kegiatan

 

 

 

Konsorsium JAVLEC Indonesia yang berpusat di Berau mengusung kegiatan yang di danai oleh MCA-Indonesia melalui pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal di kawasan Timur Kabupaten Berau. Fokus utama kegiatan adalah pembangunan PLTS di Kampung Teluk Alulu, Berau serta pembangunan rendah karbon lainnya melalui pembangunan Pusat Informasi Mangrove – Wisata Alam (PIM-WA) di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan dan kegiatan ekonomi ramah lingkungan lainnya.

 

Menandai pembangunan pondasi yang akan di dukung oleh panel surya (PLTS), pada 10 Oktober Javlec melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pondasi awal pembangunan rumah es. Kegiatan peletakan baru pertama ini dihadiri oleh Camat Maratua, kepala Bappeda propinsi Kalimantan Timur  dan perwakilan dari MCA-Indonesia, Direktur Eksekutif KEHATI.

 “Rumah es ini akan ditunjang oleh PLTS yang didanai oleh MCA-Indonesia, ditujukan untuk mendukung peningkatan ekonomi rakyat melalui pengawetan ikan, dan mendorong industri kecil pengolahan aneka produk berbasis hasil laut” ujar Fachrudin Rijadi, Project Manager Konsorsium Javlec Indonesia.

 

JAVLEC merupakan salah satu dari 5 proyek MCA-Indonesia lainnya yang berlokasi di Berau, yang mendukung Program Kemakmuran Hijau untuk Pemberdayaan Sumber Daya alam Berbasis Masarakat (PSDABM). Tujuan utama proyek PSDABM adalah meningkatkan ekonomi masyarakat yang mendukung penurunan emisi GRK melalui penerapan ekonomi hijau.

 

“MCA-Indonesia telah membantu mendorong masyarakat lokal membangun desa dengan konsep ekonomi hijau” ujar M. Sembiring, Eksekutif Direktur Yayasan KEHATI. KEHATI merupakan Manager pengelola hibah Program PSDABM MCA-Indonesia. “Bagi KEHATI, Berau merupakan kabupaten yang strategis yang dapat di dorong menjadi kabupaten hijau karena potensi sumberdaya alamnya yang luar biasa, baik hutan, mangrove maupun karst” tambah MS. Sembiring. KEHATI sendiri telah terlibat di Berau melalui kegiatan TFCA sejak tahun 2011.

 

Secara umum, kegiatan JAVLEC yang didanai oleh MCA-Indonesia ini bertujuan untuk  meningkatkan pendapatan rumah tangga miskin dan keberlanjutan bentang alam dalam rangka penurunan emisi gas rumah kaca melalui pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal" ujar Asep Suntana, Program Direktur PSDABM MCA-Indonesia. Hal ini dicapai melalui: (1) Meningkatnya industri kreatif ramah lingkungan berbasis potensi lokal, (2) Berkembangnya usaha ekowisata berbasis masyarakat, (3) Meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan skala kecil.

 

Hasil-hasil tersebut akan dicapai melalui pengembangan fasilitas pengawetan ikan dengan menggunakan energi terbarukan, industri minyak kelapa berbasis home-industri, pengolahan dan peningkatan nilai tambah produk olahan hasil laut, dan ekowisata mangrove.

 

Pencapaian target-target kegiatan proyek mengandalkan strategi dan kegiatan yang secara tepat bisa menjawab kebutuhan masyarakat, baik laki-laki maupun perempuan, dan ramah lingkungan. “Kami melihat ruang gerak, peran serta kebutuhan dan aspirasi perempuan dan laki-laki bisa berbeda, dan sama-sama penting untuk dipertimbangkan. Semangat ini yang mewarnai dan melingkupi pembangunan Pusat Informasi Mangrove – Wisata Alam (PIM-WA) di Kampung Tanjung Batu yang merupakan satu-satunya pusat mangrove yang ramah terhadap kaum rentan dan difabel” tambah Fahrudin Rijadi.

 

Konsorsium JAVLEC Indonesia beranggotakan 6  lembaga, yaitu JAVLEC Indonesia, PENJALIN – Perkumpulan Jemari Alam Indonesia, YPAB – Yayasan Pendidikan Anak Bangsa, JALA – Jaringan Nelayan, Kelompok Kerja (Pokja) REDD Kabupaten Berau, dan PT Energi Biru Indonesia. Lokasi sasaran proyek di Kabupaten Berau – Provinsi Kalimantan Timur—meliputi Tanjung Batu dan Teluk Semanting (Kecamatan Pulau Derawan) serta Teluk Alulu dan Bohebukut/Teluk Harapan (Kecamatan Maratua).

 

Kontak Person :

Hoho (081215515505)

Alamat Konsorsium Javlec di Berau

Jl. Murjani II No.17, Tj. Redeb, 77315, Gayam, Tj. Redeb, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur 77315, Indonesia