Nelayan Maratua, Berau, Kalimantan Timur hingga kini masih kesulitan mendapatkan es batu untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan.  Sebuah pabrik es sedang dibangun untuk menjawab kelangkaan es saat mereka melaut.  Energi matahari menjadi andalan menggerakan mesin pabrik. 

Kelimpahan sumber daya ikan di perairan Maratua, Derawan dan sekitarnya membuat nelayan di wilayah ini harus berpacu dengan waktu.  Ikan hasil tangkapan nelayan bisa busuk di jalan jika tidak segera tertolong.

“Kami sangat butuh es.  Apalagi kalau melaut bisa menghabiskan tiga sampai hari,” ujar nelayan Maratua, Iwan Kusmayadi (11/10). 

Jika melaut, sambungnya, ikan hasil tangkapan disimpan dalam kotak fiber.  Supaya awet, fiber harus diisi es sebelum nelayan membawanya kembali ke daratan dan dijual pada pedagang pengumpul. 

Ikan-ikan hasil tangkapan nelayan dibawa jauh hingga ke Tanjung Redeb, ibukota Berau.  Jaraknya bisa seharian berperahu motor.

“Setidaknya, kalau bawa ikan sampai ke Berau (istilah nelayan untuk Tanjung Redeb) harus tahan sampai seminggu,” ucapnya.

Sekali melaut, sambungnya, setidaknya nelayan bisa mengumpulkan hingga 80 kilogram ikan.  Tapi kalau kelimpahan ikan banyak dan cuaca mendukung, nelayan bisa mendapatkan hingga 240 kilogram.  Bahkan bisa lebih dari angka itu.

“Tapi kami terkendala. Susah mendapat es.  Es dibawa dari Berau.  Itupun harganya 12 ribu (rupiah) per balok.  Parahnya lagi, es kadang tidak ada.  Jadi kami gagal melaut,” paparnya.

Kampung Iwan di Teluk Alulu merupakan sebuah kampung yang jauh dari akses.  Satu-satunya sarana transportasi yang digunakan adalah perahu bermesin.  Jaraknya dari Tanjung Redeb bisa mencapai 12 jam dengan kapal sederhana bermesin tunggal.  Paling lama bisa mencapai 14 jam.

Es batu dari Tanjung Redeb hanya bisa dibawa dengan kapal.  Tidak mungkin mengandalkan speed boat, karena harga es akan jauh lebih malah mengingat biaya transportasi.  Selain itu, ukuran es balok tidak muat dimasukkan ke dalam perahu bermesin kencang itu. 

Iwan dan nelayan Teluk Alulu bertekad memanfaatkan kelimpahan sinar matahari.  Sinar matahari, katanya, dapat dikonversi menjadi energi listrik yang menggerakkan mesin pembuat es batu.

Inisiatif inilah yang lantas dijawab oleh Millenium Challenge Account (MCA) – Indonesia.  Program ini berkomitmen untuk pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi lokal.

Melalui Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan Java Learning Center (JAVLEC), program ini mempermudah persoalan yang dihadapi nelayan.  Sebuah inisiatif pabrik es kini tengah dibangun di kampung Iwan.

Di kampung ini sedang dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal berkekuatan 54 kilowatt-peak.  Daya yang dihasilkan PLTS ini  mampu menggerakkan mesin pembuat es berkapasitas 2 ton per hari.

Community-based Natural Resources Manager MCA-I,  Muhamad Chehafudin mengatakan, kegiatan ini penting karena berbasis masyarakat.  Masyarakat terlibat langsung dari mulai perencanaan, pelatihan, pembangunan pabrik hingga mengelola hasil-hasilnya.  Dalam prakteknya, es akan digunakan bagi kepentingan nelayan.  Diharapkan dengan adanya pabrik, pengeluaran nelayan untuk membeli es balok bisa berkurang.

Pabrik ini memilik perputaran uang.  Dimana nelayan tetap akan membeli es dari pengelola yang sudah dibentuk pemerintahan kampung.  Dalam hal ini Badan Usaha Milik Kampung (BUMK).  Kalau ini dapat dikelola dengan baik, maka operasi dan pengelolaan pabrik dapat ditanggung oleh pabrik sendiri.

“Sehingga keberlanjutan pengelolaan dapat dijamin,” tandasnya.

 Silahkan klik di link berikut untuk melihat foto: Foto Kegiatan