Mangrove di Berau, Kalimantan Timur berpotensi maraup rupiah melalui ekowisata.  Pengelolaannya mesti beralaskan asas berkelanjutan.  Peran masyarakat menjadi kunci utama.

Direktur Yayasan Keragaman hayati Indonesia (Kehati), MS Sembiring menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam ekowisata mangrove.  Potensi mangrove yang cukup besar di Berau, Kalimantan Timur tentu dapat dijadikan sebagai salah satu peraup rupiah yang potensial.

“Mengelola mangrove harus melibatkan masyarakat,” ungkapnya.

Di banyak tempat, lanjutnya, masyarakat sudah mampu memanfaatkan jasa lingkungan mangrove.  Seiring ekowisata, masyarakat dapat mengembangkan usaha pengolahan hasil perikanan, termasuk budidaya kepiting bakau, usaha kuliner, penginapan, dan pengembangan pusat oleh-oleh.

Hal tersebut disampaikan MS Sembiring di sela kunjungannya ke Pusat Informasi Mangrove (PIM) di Desa Tanjung Batu, Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur (10/10).  Di Indonesia sendiri, ungkapnya, potensi mangrove meliputi daerah pesisir yang membentang dari Sumatra hingga Papua.

Pengelola Program Java Learning Center, Fachrudin Riyadi, mengungkap  pengelolaan mangrove Berau belum optimal sebagai tujuan wisata andalan.  Untuk itulah PIM ada sebagai media pemberdayaan masyarakat. 

“PIM menjadi sarana pembelajaran, sekaligus tempat segala informasi mangrove dapat diakses,” katanya.

Di Tanjung Batu, lanjut Facrudin, kegiatan wisata menyasar pengelolaan eksositem mangrove berbasis masyarakat.  Hutan mengrove Tanjung Batu tersebar di Bulalang dan Mangkarangau. 

“Walau berstatus Area Penggunaan Lain, pengelolaannya sudah mendapat izin dari Bupati,” ungkapnya.

 Pada 13 April 2017, Bupati Berau mengirim surat nomor 523.1/159/Pem tentang Pembangunan Sarana dan Prasarana Ekowisata Mangrove Kampung Tanjung Batu.   Surat ini, salah satunya berisi rekomendasi pembangunan PIM. 

Selain PIM, saat ini juga sedang dibangun educational track yang sekaligus berfungsi sebagai dermaga.  Wisatawan dapat mengakses kawasan ini melalui darat, maupun transportasi air.

Kepala Desa Tanjung Batu, Jorjis mengatakan sesungguhnya total luasan bakau di wilayahnya seluas 3.131 hektare. 

“Tapi yang dikhususkan sebagai lokasi ekowisata hanya seluas 1.833 hektare.  Di sini terdapat mangrove jenis langka Camptostemon philippinense.” ungkapnya. 

Masyarakat, lanjutnya, sudah bersepakat melindungi, mengelola dan memanfaatkan hutan mangrove untuk meningkatkan kesejahteraan.  Pada titik inilah ekowisata berperan penting.

“Kami dibantu MCA-Indonesia melalui Yayasan Kehati dan Javlec,” katanya. 

Millenium Challenge Account Indonesia berkomitmen untuk pengembangan usaha-usaha ramah lingkungan berbasis potensi local.  Selain Kawasan Ekowisata Tanjung Batu, disini MCA-Indonesia juga membantu pembangunan Pusat Listrik Tenaga Surya di Kampung Teluk Alulu, Berau.

Sejalan dengan itu, Direktur Program Pengelolaan Sumber Daya Alam Berbasis Masyarakat KEHATI – MCA-Indonesia, Asep Suntana, mengatakan program ini menampilkan bentuk ril dari pengelolaan hutan modern berbasis masyarakat.

Jika berbagai kepentingan tidak terfasilitasi dengan baik, lanjutnya, bisa saja semua inisiatif tersebut tidak akan berhasil-guna.  Jadi peran-peran fasilitasi sungguh dibutuhkan.

“Hutan dikelola untuk memenuhi banyak kepentingan (multi-interests forestry) dalam rangka mencapai pengelolaan hutan lestari. Termasuk mangrove,” katanya.

Mangrove penting sebagai system penyangga kehidupan, lanjut Sembiring.  Kondisi mangrove di sepanjang pesisir Berau masih cukup bagus.  Mangrove berperan menguatkan ekosistem laut dan pesisir sebagai wilayah pemijahan berbagai jenis ikan, dan habitat keragaman hayati yang penting.

Selain itu mangrove juga berperan sebagai sumber pangan, pelindung pesisir, menjaga kekayaan keragaman hayati dan berkontribusi sebagai pengendali iklim.  Karena itu pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No 73 tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

“Di dalamnya juga termaktub peran serta masyarakat,” tandas Direktur Yayasan Kehati itu.

 

 Silahkan klik di link berikut untuk melihat foto: Foto Kegiatan